![]() |
| SINOPSIS PESHAWA BAJIRAO EPISODE 1 (PERDANA) DIINTERPRETASIKAN DAN DI TERJEMAHKAN OLEH MADE |
Index : Awal kish Peshwa Bajirao dimulai dengan kisah Peshwa 'Balaji Vishwanath Bhatt 'dan istrinya 'Radhabai. Balaji Vishwanath menginformasikan Radhabai bahwa segera mereka akan diberkati dengan seorang anak yang akan menjadi Raja yang hebat di masa depan. Pasangan tersebut pindah dari rumah mereka di Chiplun saat prajurit Mughal menyerang desa mereka. Tararani Saheb adalah ratu Chhatrapati Rajaram Bhonsle. Pada kematian Rajaram, janda Tararani menjadi Janda memproklamasikan anak laki-lakinya yang masih bayi, Shivaji sebagai pengganti Rajaram dan dirinya sebagai bupati.
-----------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------
SINOPSIS TAYANGAN PERDANA BY MADE
Malam
hari ketika itu Maharaj shivaji rao melakukan puja pada dewa siwa di dalam gua dan mengatakan
"Om Namashya vay"., ia mengelurkan pedangnya dan memotong jarinya, ia berjani untuk menang
dan tidak akan membiarkan musuhnya untuk duduk damai. Lalu ia bersorak sorai
mengatakan “Har.. har Mahadev”, dan semua pengikutnya pun ikut bersorak sorai,
Maharaj shivaji rao kemudian memasukan kembali pedangnya dan berjalan pergi
sementara itu semua pengikutnya terus bersorak sorai Har..har … Mahadev.
Suara
narrator berkata “Har… Har .. Mahadev… Maharaj shivaji rao akan meninggal dan
Mughal akan mencoba untuk merebut kerajaan”.
Setelah
55 tahun berlalu, ayah Peshwa (Balaji Vishwanath Bhat) sedang berdoa pada
dewa siwa dan bersorak sorai Har..har Mahadev, ia hatinya sedang dirundung
ketakutan yang sangat besar, Balahi mengatakan " Maharaj Shivaji Rao telah
mengambil sumpah / shapath, tapi ia tidak bisa memenuhi janjinya...
"Kaisar Mughal Aurangzeb mengkhianati Maharaj Shivaji Rao dan melukai
dia". Kilas balik di tampilkan ketika sekelompok pria berkuda sedang
melintas, dan beberapa orang sedang berndam disungai bersiap-siap untuk
melelapkan diri ke dalam air. Balaji meminta pada Maha dev untuk mengirim seseorang untuk melindungi
kerajaan atau kerajaan mereka akan hancur.
Pandit datang ia berdiri di luar dan berkata pada Balaji “ Aku merasa baik ketika
melihat seseoarang sedang berdoa untuk kerajaan mereka, tapi siapa yang akan
menulis swaraj di negeri ini, ia akan pasti akan menjadi anak mu saja”. Balaji Vishwanath Bhat mengatakan "
bahkan aku tidak punya anak".
Pandit JI berkata "takdir telah memilih anakmu untuk
merangkul Swaraj dan ia akan lahir di rumah mu " Balaji Vishwanath Bhat datang menemui pandit, ia mencakupkan kedua
tangannya dengan rasa penuh syukur dan pandit memberkatinya.
Di sebuah pedesaan, Seorang wanita (Radha Bai / sitri dari istri Balaji Vishwanath sedang
bernanyi Bhajan, alunan suaranya terdengar sangat merdu menggema di
perkampungan yang begitu sangat tenang, beberapa anak sedang bermain dan
berlari. Radha sedang berdoa, kemudian ia duduk di meja dan mulai menulis di
selembar kerta bahwa ia telah sampai di tempat tinggalknya dan menuliskan bahwa
suaminya telah mendatkan perkejaan dan juga rumah… dalam surat itu Radha
menambahkan bahwa ia juga mendapatkan sarang burung, ia berpikir untuk
mendapatkannya..., kemudian Radha kembali berpikir harus ada perbedaan antara Mughal dan
Marathis. Radha berkata " Kita tidak bisa membuat sarang untuk kita
sendiri, tidak peduli apa yang akan terjadi ... tapi kita bisa membiarkan sarang
seseorang untuk membangunnya". Ia tesenyum dan menggulung kertas suratnya.
Kemudian sesorang datang mengetuk pintu rumahnya dan mengejutkannya. Radha
bangun dan bertanya “Siapa yang datang?” . Radha membuka pintu dan keluar namun
ia tidak menemukan siapapun di luar, Radha akan kembali masuk akan tetapi ia
mencurigai sesuatu, ia melangkah maju dan menemukan keranjang buah yang
terletak di luar. Balaji Vishwanath Bhat datang dan memeluknya dari belakang.
Radha terkejut, lalu Mereka bicara tentang Aurangzeb. Lalu ia marah dan masuk
kedalam rumahnya.
Balaji Vishwanath Bhat menatapnya Radha tertawa dan
bertanya “Ada apa?”, bALAJI bertanya pada Radha, Balaji banyak bertanya dan
mengajukan pertanyaan “Beri tahu aku, apakah kau sedang hamil?” tanpa disadari
Radha mengatakan “Ya”. Radha salah tingkah dan tertawa, Balaji sangat bahagia
dan kemudian memeluknya. Radha terdiam seketika dan Balaji beingung menatapnya.
Dengan sangat ragu, Radha Bai mengatakan pada suaminya “Bagaimana jika kita
tidak dapat memberikan pendidikan yang baik untuknya?”. Balaji mengatakan untuk
meyakinkan Radha dan menyentuh perutnya “Anak kita akan menjadi kaisar besar
dan akan mendapatkan Swaraj”. Mendengar ucapan suaminya Radha senang. Mereka
kembali berpelukan.
Hari-hari telah berlalu, Radha kembali bernyanyi
melantunkan nyanyian yang sangat merdu memecah kesunyian malam di desanya.
Balaji memberikan beberapa pakaian untuk Raddha ia mengelurkan sebuah patung dan
terus menatapnya, Radha Bai mengatakan "aku senang mereka memiliki rumah ini sekarang". Balaji mengalihkan pembicaraan dan ia menaruh semua pakian
miliknya ke kotak penyimpanan dan memintanya bangun, Radha merasa tendangan bayi di perutnya dan
mengatakan " bayi ku menendang seolah-olah ia marah dengan
seseorang". Balaji tertawa mendengarkan ucapan Radha.
Mereka terkejut mendengarkan suara bising dari luar dan suara gajah,
Balaji keluar mendengarkan semua orang sedang teriak. Sekelompok orang utusan
Aurangzeb sedang menyerang Marathis, Rahda bai meminta agar suaminya masuk
kedalam rumah ia bergitu sangat kahawatir. Radha bai ketakutan dan mengambi
patung dewa di tempat pemujaannya, sementara itu suaminya sedang menaikan
seluruh barang-barang mereka ke kereta. Diluar sekelompok prajurit berkuda
menyerang penduduk kampung dan membunuhnya, Balaji meminta agar istinya tenang
dan duduk di kereta, sementara itu ledakan api terjadi dan membakar salah satu
rumah penduduk, Balaji dan istrinya terkejut ketika ia melihat api diluar rumah
mereka telah membesar. Beberapa prajurit itu sengaja membakar rumah-rumah
penduduk, Balaji mengambil obor yang ada di keretanya, Radha bertanya “Apa yang
akan kau lakukan”. Balaji Vishwanath Bhat mengatakan " rumah ini adalah
milik kita dan hanya kita yang memiliki hak untuk membakarnya Balaji akan membakar rumahnya snediri, Radha
menangis dan tidak setuju dengan usulan Balaji
Balaji kemudian melemparkan obor, api jatuh terpat diatas
atap dan membakar jerami di atas rumah mereka. Radha menangis sedih karena ia
telah kehilangan rumahnya, mereka menatap sedih kerah rumah mereka yang telah
terbakar dan kemudian ia menaiki ke keretanya, sekali lagi mereka menatap ke
rumah dan mereka mulai berangkat meninggalkan perkampungan dengan kereta, Radha
terus menangis, ia duduk di belakang kereta dan bertanya pada suaminya “ Kemana
kita akan pergi?”. Balaji mengatakan “Kita akan mencari rumah baruRadha Bai
bertanya " ke mana kita akan pergi?" Balaji mengatakan "kita
akan mencari rumah baru... Kau mungkin berpikir mengapa aku tidak menantang
Mughal … kita tidak bisa mengambil risiko
untuk masa depan bayi ini untuk perang".
Di tengah perjalan mereka melarikan diri dari
perkampungan, sambil mengemudikan kereta, Radha menangis berkata pada Balaji “
Aku merasa sangat buruk karena mereka telah membakar rumah di perkampungan..
dan impian mereka juga telah ikut terbakar. Balaji meminta pada istrinya agar
ia untuk terus bermimpi bahkan jika ajal
sudah datang dan meminta janji. Radha Bai hanya mengangguk.
Beberapa prajurit berkuda menegur dan menghentkan
perjalanan mereka, prajuri bertanya pada Bakaji “Apakah kalian pikir…, kalian
bisa melarikan diri?”. Prajurit juga meminta agar Balaji menyerahkan
perhiasannya, Balaji meminta agar istinya menyerahkan perhiasannya,. Balaji Vishwanath Bhat meminta mereka untuk
tidak menyentuh istrinya dan memberikan perhiasan. Tapi Mereka memintanya untuk
memberikan mangalsutra juga. Balaji Vishwanath Bhat meminta agat mereka untuk
melepaskan mangalsutra. Salah satu praurit maju, ia akan mencoba melepaskan
magalsutra yang dikenakannya,, tapi Radha memulul parjurit itu.
Seorang putra laki-laki dari Aurangzeb bertanya " apakah kau
akan menghentikan kami .. Mereka mengejek mengatakan " tangan brahmana
memiliki pena dan bukan pedang" seorang Pria berjalan menuju Radha Bai,
Balaji Vishwanath Bhat membunuh semua prajurit untuk melindungi istrinya. Radha yang
ketakutan bergegas memeluk suaminya dan memangis. Balaji mengusap air mata
radha dan memeluknya.
Suara Narator menjelaskan setelah perlawanan yang di
lakukan oleh Balaji untuk memperjuangkan keselamatan istri dan anaknya, masalah tidak hanya sampai di sana.
Ditampilkan bebetapa orang sedang menunggangi kuda di kegelapan malam, mereka
mamasuki istana.
Seorang wanita turun dari keretanya, ia merupakan istri kedua dari Chatrapati Shivaji Rao
terlihat sedang menangis ia melangkah masuk kedalam istana untuk melihat
suaminya yang ternyata sedang berbaring lemah. Pedana menteri memberitahu pada
istri pertamanya bahwa suaminya sudah
lama sakit keras dan terus terbatuk dan berbaring lemah di tempat tidur, sang
istri memerintahkan semua orang keluar
dari kamarnya.
Istri keduanya mengatakan "aku juga istri Chatrapati
maharaj" . Istri kedua yang duduk di samping suaminya pun menangis
mencemaskan keadaan suaminya yang sedang sakit,
istri pertama mengatakan " semua jari tidak sama dan itulah mengapa
semua istri tidak memiliki tempat yang sama dalam hidupnya". Istri keduanya
terkejut dan menangis ketika dirinya diminta keluar oleh istri keduanya. Istri keduanya
keluar ia menggendong anak yang masih
kecil dan berlari keluar.
Maharaj Chatrapati terus terbatuk, istri keudanya berlari
dan bergegas melihat keadaan suaminya yang sedang berbaring lemah. Istri kedua
memegang tangan suaminya
Suaminya mengatakan" keponakan ku... Sahuji akan
duduk di Singhasan ku..." Maharaj Chatrapati meminta pada istrinya untuk
berjanji padanya. Istrinya memegang tangannya meyakinkannya, kemudian
Chatrapati meninggal. Pedana mentrinya menangis ketika Maharaj Chatrapati
menghembuskan nafas terakhirnya , istri pertamanya menangis berlinangan air mata menatap kepergian
suaminya, anaknya yang masih kecil menghampiri ayahnya dan menangisi kepergian
ayahnya disamping ibunya, ibunya mengusapkan air mata sambil menatap kearah
jasad suaminya, istri pertamnya mengajak
anaknya pergi ke aula, semua orang sedang berkumpul lalu istri pertama Maharaj
Chatrapati memecahkan gelang ditangannya dan menangis patahan gelang
berhamburan di lantai, semua orang berlutut ketika mengetahui Maharaj
Chatrapati telah meninggal, lalu istri keduanya pun juiga memecahkan gelang ditangannya ia pun
menangis sedih lalu mengambil bayi kecilnya .
Istri pertama berkata “Dinasti kami tidak
akan membiarkan kami untuk meratapi kepergian Maharaj Chatrapati”. Ia
mengumumkan “Aku ingin memenuhi
keinginan terakhur dari suami ku…, maharaj ingin putra kami menjadi raja” istri
pertama maharaj menggandeng putranya
Semua pedana menteri berdiri setelah mengetahui tentang keinginan terakhir Maharaj
Chatrapati dan terkejut, salah satu dari pedana menteri bertanya “Bagaimana
bisa dia membuat anaknya menjadi seorang raja, ia bukan Shauji”. Istri pertama
Maharaj berkata “Ini keinginan terakhir dari mendiang suami ku, aku akan
mengumumkan raja berikutnya”. Semua hanya mengangguk, istri pertama mulai
berjalan meninggalkan aula koridor dengan membawa anaknya diikuti oleh pedana
menteri, mereka keluar dan di bawah semua rakyat ikut berkabung untuk mendiang
Maharaj Chatrapati ketika ratu
mengumumkan kematian raja mereka, semua menangis sedih karena telah kehilangan
Chatrapati. Mereka bersorak sorai, dan ratu juga bersorak sorai “Har..har maha
dev “ yang diikuti oleh pendukungnya.
Keesokan paginya, Balaji bersama dengan
istrinya melintasi jalanan yang telah dipenuhi oleh banyak orang dengan
menggunakan pakaian berwarna putih, mereka bingung meliat mereka berjalan
dengan membawa segala perlengkapan seperti kambing dsbnya. Balaji berhenti di
sebuah rumah dimana seorang wanita sedang berdiri dan ia memberikan salam pada
wanita itu, Balaji dan istrinya beristirahat disana, Balaji sedang menyegarkan
dirinya ia mencuci mukanya, pemilik rumah (wanita yang menyambut Balaji) ia
membawakan haduk dan minuman untuk Balaji dan Radha Bai, datang
membicarakan tentang kematian Maharaj Chatrapati, ia menambahkan bahkan
sang ratu meminta agar anaknya tidak menangis dan besiap untuk menangani dinasti
yang telah di tinggalkan oleh ayahnya. Radha berbicang dengan wanita itu dan ia
melihat ketika suaminya mengeluarkan beberapa keping uang logam dari dalam
sakunya.
Sementara itu, upacara terakhir mendiang
Maharj Chatrapati sedang berlangsung, suasana begitu sangat penuh dengan duka.
Istri pertama dan istri kedua Chatrapati begitu sangat sedih. Anaknya menangis
danRani Saheb/ ibunya meminta agar ia
diam dan tidak lagi menangisi kepergian anaknya dan berpesan bahwa ia harus
bisa menerima kepergian ayahnya dan menjalankan pesan terakhir dari mendiang
ayahnya. Ketika itu Dhanan ji datang ke sana dan membicarakan tentang
permintaan maaf pada ratu dan mengakui jika dirinya telah berfikiran salah,
Dhana Ji berkata “Banyak orang yang menginginkan Shauji untuk duduk di singgasana tersebu”.., Rani
Saheb meminta semua pelayan yang hadir disana untuk menutup telinga
mereka. Rani Saheb menjawab “bahkan aku
juga menginginkan hal yang sama dan itu sesuai dengan keinginan terakhiar suami
ku, tapi Sahuji dan juga ibunya berada di penjara oleh Mughal dan hal itu
membuat Dhana Ji begitu sangat terkejut.
Disebuah
perkemahan, Aurangzeb berkata “Kita harus tetap menahan Shuji untuk menjaga
Marathis agar tetap aman saat berada dalam kontol kami dan istri dari
Chatrapati sama sekali tidak mengetahui jika sejak 11 tahun yang lalu Sahuji
telah di penjara oleh Aurangzeb… tidak akan ada yang tahu jika Shauji itu asli
atau palsu, tidak akan ada yang tahu jika dirinya Shahuji yang sebenarnya atau
bukan”. Aurangzeb duduk tersenyum di singgasananya
Kembali
ke istri pertama mendiang Maharaj
Chatrapati, Dhanan ji berkata “Hanya ada satu
orang yang bisa membeaskannya dari cengkaraman Aurangzeb dan memberitahukan
nama orang tersebut adalah Balaji Vishwanath Bhat dan sang ratu terlihat penuh dengan
harapan.
Ketika
itiu Balaji sedang bersama dengan Radha Bai.
Precap:
Marathis bertanya-tanya tentang nasib mereka di kerajaan. Balaji bersama parajuritnya mencoba untuk membebaskan Shauji, Peshwa Balaji kecil telah lahir, dan Peshwa tumbuh besar diperkenalkan sedang melompat ke sungai, Radha bai berteriak memanggilnya dan terkejut
Marathis bertanya-tanya tentang nasib mereka di kerajaan. Balaji bersama parajuritnya mencoba untuk membebaskan Shauji, Peshwa Balaji kecil telah lahir, dan Peshwa tumbuh besar diperkenalkan sedang melompat ke sungai, Radha bai berteriak memanggilnya dan terkejut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar