TAYANGAN SONY TV : 19 MEI 2017
Baji mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Tara Rani, ia berbalik dan bertemu dengan Sevika/ pelayan. Sevika memberitahu Baji "Radha mencoba untuk melarikan diri dan Shiva Raze memberikan hukuman mati padanya, namun Tara Rani Bai melindung mereka dan sekrang mereka telah di bebaskan". Baji bertanya pada Sevika "dimana mereka sekarang ?'. Sevika mengatakan "mereka berada dalam cara yang sarat". Sevika meminta Baji untuk membierkannya pergi dan berkata "aku dalam masalah kerena telah berbicara dengan putra dari Raj Drohi". Baji berfikir untuk segerai sampai lebih awal, ia mengira harus menyelamatkan ibu dan adik kandungnya dalam bahaya, Baji bergegas pergi menunggangi Malhari
Geobak pedati sapi jantan yang ditunpangi Radha Bai dan kedua anaknya masih dalam perjalanannya, Naser dari kejauhan mengamati datangnya pedati memagang busur beserta anak panah api dari kejauhan ia mengingat saat Radha Bai menamparnya, Naser mengatakan "Hari ini kau dan anak-anak mu harus tiada, tidak akan ada yang akan menyelamatkan mu". Naser melepaskan anak panah api dan tersenyum puas, panah api melesat membakar gerobak pedati. Naser tersenyum puas dan pergi bersama prajuritnya. Baji masih dalam perjalanannya mencari ibu dan kedua adiknya, ia berpikir "kemana aku harus pergi, lurus, beleok kiri atau kekanan".
Kam Baksh terbangun dari tidurnya kerena tetesan darah mengenai wajahnya, ia berteriak dan terkejut melihat prajuritnya telah tewas dan berlumuran darah, dan semakin kaget saat melihat Azam duduk disana dengan pedang ditangannya, Azam marah dan mengarahkan pedang pada Kam Baksh, Azam berkata pada Kam Baksh "Dinding mu telah terbuka". Kam Baksh mengatakan "Aurangzeb memberikan Daccan untuk ku". Azam mengatakan "Kau telah mdikalahkan anak kecil. Kam Baksh hendak akan menusuk Azam namun tidak bisa menusuknya, Azam menebaskan pedangnya tepat mengenai leher Kam Baksh, dan Kam Baksh menjatuhkan belati dan mengingat semua kata-kata Baji dan meninggal. Azam pergi dengan pedang berlumuran darah.
Naser dan prajuritnya datang ke gerobak pedati yang telah hangus terbakar, namun tidak menemukan apapun, ia memerintahkan untuk mencari Radha bai dan juga anak-anaknya. Sementara itu Radha Bai sedang berlari di sawah, Kilas balik di tampilkan saat Radha meminta Bihu untuk menghentikan gerobak pedati, tapi pengemudi menolaknya, Radha memukul lehernya dan pengemudi tidak sadarkan diri, Radha dan anak-anaknya turun dan kemudian Radha menepuk sapi-sapi untuk terus berjalan, kilas balik berakhir Bihu bertanya pada Radha Bai " apakah dia meninggal?". Radha mengatakan "tidak". Mereka terus berlari, Chimna sudah tidak sanggup berlari dan mereka tidak menyadari jika Naser dan beberapa prajuritnya terus mencari dan mengikuti jejak mereka,
Diperkemahan Shahu Ji, Shahu Ji membidikan anak panah pada target, ia berfikir tentang ibunya yang meminta pada dirinya untuk melindungi negara dan mengingat kata-kata Azam yang mengatakan "kekasih mu akan mengambil nyawa mu". dan saat prajurit Mughal mengatakan "sanak keluarga mu akan mencoba untuk membunuh mu". Shahu ji berfikir "Bangsa ku telah menjadi musuh-musuh ku dan ibu ku masih berada dalam tahanan Mughal ". Shahu Ji kHawatir ia melepaskan anak panah dan mengenai target, Dhana Ji datang dan meminta Shahu ji untuk memeriksa nama-nama patron Dhan yang dapat membantu mereka secara finansial. Shahu ji menolak nya. Dhana ji meminta "kita akan meminta uang dari siapa?". Shahu ji berkata "dari dia." Balaji mengambil jeni Maharaj Krishan itu. Dhana ji bilang" dia pembantu dekat Tara Rani Bai". Shahu ji bilang "dia kaya dengan uang dan resi dari hati". Shahu Ji mengatakan" saat berada di penahanan Aurangzeb, dia membuat pengaturan untuk melakukan apa yang harus dilakukan ", selanjutnya. Balaji bertanya" mengapa dia akan membantu kita". Shahu ji meminta Balaji untuk menemukan jalannya dan tersenyum
Baji, Bihu dan Chimna terus berlari di hutan, Chimna terus batuk dan kesulitan untuk berbafas ia tidak sanggup untuk berlari lebih jauh lagi, Naser menunggangi kudanya bersma prajurit terus mencari keberadaan Radha Bai dan kedua anaknya, Naser mendengar suara mereka, Chimna pingsan, Radha membawa Chimna kepangkuannya dan mereka bersembunyi di balik rerimbunan pepohonan. Naser mengatakan "sepertinya mereka lari dari sini, tapi saat Radha bai hamil, dia tidak akan bisa pergi jauh dari sini". Naser dan prajuritnya pergi dari sana, tapi mendengar Chimna batuk. Naser berkata "aku tahu bagaimana membawa mereka keluar dari tempat persembunyiannya". Naser meminta prajuritnya untuk menyalakan api didekat mereka dan membakar dedaunan kering, Naser berkata "Kita akan melihat bagaimana adik Baji akan menghentikan batuknya karena asap". Kepulan asap membuat batuk Chimna Ji bertambah parah, dan Naser tertawa puas. Baji sudah hampir dekat ia melihat kepulan asap tebal di tengah sawah, ia berfikir kata-kata ibunya dan berbicara dengan Malhari "jika ada asap itu tanda bahwa ibu ku dalam Bahaya" Baji meminta Malhari ke arah datangnya asap.
Sementara itu, Balaji membayangkan saat ia melihat rumah yang sepi dan menangis melihat tanaman milik Radha Bai yang layu dan mersakan getaran yang sangat buruk, Balaji dikejutkan dengan ringkikan suara kuda, Balaji berfikir "kemana aku harus psegi?". Seorang pria mengarahkan bidikan dengan anak panahnya ke arah Balaji, Balaji tutun dari kudanya ia akan mengambi pasir saat anak panah melesat ke arahnya, Balaji menyadari sesorang sedang mengintai dan mengeluarkan pedangnya. Balaji mengamati kesekeliling dan tidak menemukan siapapun
Naser terus mengolok-olok Radha Bai dan meminta agar Radha keluar dari persembunyiannya, ia juga meminta agar Radha memutuskan dan bertanya "Apakah kau ingin mati seperti hari mau atau kematian sebagai seorang pengecut?". Naser memegang pedang di tangannya, Radha meminta pada Chimna Ji dan Bihu untuk tidak keluar dari persembunyian dalam kondisi apapun, Radha pergi datang menemui Naser, Naser tertawa gembira saat melihat Radha Bai di hadapannya
.
Baji mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Tara Rani, ia berbalik dan bertemu dengan Sevika/ pelayan. Sevika memberitahu Baji "Radha mencoba untuk melarikan diri dan Shiva Raze memberikan hukuman mati padanya, namun Tara Rani Bai melindung mereka dan sekrang mereka telah di bebaskan". Baji bertanya pada Sevika "dimana mereka sekarang ?'. Sevika mengatakan "mereka berada dalam cara yang sarat". Sevika meminta Baji untuk membierkannya pergi dan berkata "aku dalam masalah kerena telah berbicara dengan putra dari Raj Drohi". Baji berfikir untuk segerai sampai lebih awal, ia mengira harus menyelamatkan ibu dan adik kandungnya dalam bahaya, Baji bergegas pergi menunggangi Malhari
Geobak pedati sapi jantan yang ditunpangi Radha Bai dan kedua anaknya masih dalam perjalanannya, Naser dari kejauhan mengamati datangnya pedati memagang busur beserta anak panah api dari kejauhan ia mengingat saat Radha Bai menamparnya, Naser mengatakan "Hari ini kau dan anak-anak mu harus tiada, tidak akan ada yang akan menyelamatkan mu". Naser melepaskan anak panah api dan tersenyum puas, panah api melesat membakar gerobak pedati. Naser tersenyum puas dan pergi bersama prajuritnya. Baji masih dalam perjalanannya mencari ibu dan kedua adiknya, ia berpikir "kemana aku harus pergi, lurus, beleok kiri atau kekanan".
Kam Baksh terbangun dari tidurnya kerena tetesan darah mengenai wajahnya, ia berteriak dan terkejut melihat prajuritnya telah tewas dan berlumuran darah, dan semakin kaget saat melihat Azam duduk disana dengan pedang ditangannya, Azam marah dan mengarahkan pedang pada Kam Baksh, Azam berkata pada Kam Baksh "Dinding mu telah terbuka". Kam Baksh mengatakan "Aurangzeb memberikan Daccan untuk ku". Azam mengatakan "Kau telah mdikalahkan anak kecil. Kam Baksh hendak akan menusuk Azam namun tidak bisa menusuknya, Azam menebaskan pedangnya tepat mengenai leher Kam Baksh, dan Kam Baksh menjatuhkan belati dan mengingat semua kata-kata Baji dan meninggal. Azam pergi dengan pedang berlumuran darah.
Naser dan prajuritnya datang ke gerobak pedati yang telah hangus terbakar, namun tidak menemukan apapun, ia memerintahkan untuk mencari Radha bai dan juga anak-anaknya. Sementara itu Radha Bai sedang berlari di sawah, Kilas balik di tampilkan saat Radha meminta Bihu untuk menghentikan gerobak pedati, tapi pengemudi menolaknya, Radha memukul lehernya dan pengemudi tidak sadarkan diri, Radha dan anak-anaknya turun dan kemudian Radha menepuk sapi-sapi untuk terus berjalan, kilas balik berakhir Bihu bertanya pada Radha Bai " apakah dia meninggal?". Radha mengatakan "tidak". Mereka terus berlari, Chimna sudah tidak sanggup berlari dan mereka tidak menyadari jika Naser dan beberapa prajuritnya terus mencari dan mengikuti jejak mereka,
Diperkemahan Shahu Ji, Shahu Ji membidikan anak panah pada target, ia berfikir tentang ibunya yang meminta pada dirinya untuk melindungi negara dan mengingat kata-kata Azam yang mengatakan "kekasih mu akan mengambil nyawa mu". dan saat prajurit Mughal mengatakan "sanak keluarga mu akan mencoba untuk membunuh mu". Shahu ji berfikir "Bangsa ku telah menjadi musuh-musuh ku dan ibu ku masih berada dalam tahanan Mughal ". Shahu Ji kHawatir ia melepaskan anak panah dan mengenai target, Dhana Ji datang dan meminta Shahu ji untuk memeriksa nama-nama patron Dhan yang dapat membantu mereka secara finansial. Shahu ji menolak nya. Dhana ji meminta "kita akan meminta uang dari siapa?". Shahu ji berkata "dari dia." Balaji mengambil jeni Maharaj Krishan itu. Dhana ji bilang" dia pembantu dekat Tara Rani Bai". Shahu ji bilang "dia kaya dengan uang dan resi dari hati". Shahu Ji mengatakan" saat berada di penahanan Aurangzeb, dia membuat pengaturan untuk melakukan apa yang harus dilakukan ", selanjutnya. Balaji bertanya" mengapa dia akan membantu kita". Shahu ji meminta Balaji untuk menemukan jalannya dan tersenyum
Baji, Bihu dan Chimna terus berlari di hutan, Chimna terus batuk dan kesulitan untuk berbafas ia tidak sanggup untuk berlari lebih jauh lagi, Naser menunggangi kudanya bersma prajurit terus mencari keberadaan Radha Bai dan kedua anaknya, Naser mendengar suara mereka, Chimna pingsan, Radha membawa Chimna kepangkuannya dan mereka bersembunyi di balik rerimbunan pepohonan. Naser mengatakan "sepertinya mereka lari dari sini, tapi saat Radha bai hamil, dia tidak akan bisa pergi jauh dari sini". Naser dan prajuritnya pergi dari sana, tapi mendengar Chimna batuk. Naser berkata "aku tahu bagaimana membawa mereka keluar dari tempat persembunyiannya". Naser meminta prajuritnya untuk menyalakan api didekat mereka dan membakar dedaunan kering, Naser berkata "Kita akan melihat bagaimana adik Baji akan menghentikan batuknya karena asap". Kepulan asap membuat batuk Chimna Ji bertambah parah, dan Naser tertawa puas. Baji sudah hampir dekat ia melihat kepulan asap tebal di tengah sawah, ia berfikir kata-kata ibunya dan berbicara dengan Malhari "jika ada asap itu tanda bahwa ibu ku dalam Bahaya" Baji meminta Malhari ke arah datangnya asap.
Sementara itu, Balaji membayangkan saat ia melihat rumah yang sepi dan menangis melihat tanaman milik Radha Bai yang layu dan mersakan getaran yang sangat buruk, Balaji dikejutkan dengan ringkikan suara kuda, Balaji berfikir "kemana aku harus psegi?". Seorang pria mengarahkan bidikan dengan anak panahnya ke arah Balaji, Balaji tutun dari kudanya ia akan mengambi pasir saat anak panah melesat ke arahnya, Balaji menyadari sesorang sedang mengintai dan mengeluarkan pedangnya. Balaji mengamati kesekeliling dan tidak menemukan siapapun
Naser terus mengolok-olok Radha Bai dan meminta agar Radha keluar dari persembunyiannya, ia juga meminta agar Radha memutuskan dan bertanya "Apakah kau ingin mati seperti hari mau atau kematian sebagai seorang pengecut?". Naser memegang pedang di tangannya, Radha meminta pada Chimna Ji dan Bihu untuk tidak keluar dari persembunyian dalam kondisi apapun, Radha pergi datang menemui Naser, Naser tertawa gembira saat melihat Radha Bai di hadapannya
.
Precap:
Balaji menangkap prajurit Mughal yang terus mengintai dan mencoba membunuhnya. Prajurit Mughal memberitahu pada Balaji jika Radha dan kedua anaknya pasti telah meninggal sekarang. Balaji datang ke tempat gerobak pedati yang telah hangus dan mendapatkan sesuatu, mendapat kejutan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar