![]() |
| PESHWA BAJIRAO EPISODE 127 DIINTERPRETASIKAN DAN DI TERJEMAHKAN OLEH MADE |
Index : Pada episode sebelumnya, Bajirao membebaskan negaranya dari belenggu yang menindas rakyat miskin dan tidak berdaya dan ia sekarang bertujuan untuk kebebasan total. Sementara itu, Mastani meyakinkan ibunya bahwa dia akan aman, dan memberitahu ibunya bahwa dia tidak akan ragu untuk mempertaruhkan hidupnya untuk negara nya.
-----------------------------
----------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------
Ratu marah ketika Matsani berpendapat dan mengentikan ibu Matsani untuk berpendapat. Ratu mengangkat tangannya dan berkata "Masalah ini hanya berkaitan dengan keluarga kerajaan dan kami akan mengatasi ini sendiri, kalian berdua tidak perlu khawatir". Ratu bertanya pada menteri di luar " siapa yang akan membebaskan pangeran Jagarat sekarang?" . Menteri mengatakan " kedua raja dan sisanya dari pangeran yang sekarang berada di luar kerajaan, seluruh prajurit kita telah pergi bersamanya dan yang tersisa disini menjaga istana dan perbatasan negara, dan mereka tidak bisa diminta untuk pindah tanpa izin raja, aku telah mengirimkan pesan pada raja". Ratu bertanya "apa yang kau coba katakan?"... anak ku menjadi tawanan Mughal dan tidak ada yang bisa di lakukan?" .. jika kita tidak meneruskan perang untuk mengusulkan aliansi atau melakukan apapapu yang mungkin bisa dilakukan, tapi aku menginginkan putra ku kembali, Bhure Khan". Menteri mengatakan " ada prajurit yang baik yang mulia dia diikat dengan bola, dia tahu jika terjadi sesuatu dipengadilan sekarang, dia tidak akan melepaskan pangeran dengan mudah". Ratu mengatakan pada menteri "Kami memiliki banyak kekayaan, kekayaan ini tidak akan ada gunanya jika aku kehilangan putra ku, aku tidak mempedulikan kekayaan iniaku menginginkan purtra ku". Menteri mengatakan "aku bisa mengerti, perasaan mu yang mulia, tapi tidak ada yang bisa di lakukan tanpa perintah raja, kami harus mempertanggung jawabkannya". Ratu menangis sedih, dan Matsani hanya terdiam tidak berdaya mengatakan apapun.
Bajirao datang ke kuil dewa siwa, ia mengingat kata-kata chatravati. Bajirao berkata " kau yang telah membuat takdir ku, tapi kau memberikan ku waktu yang sangat kurang untuk memenuhinya, dengan berkah mu aku telah memenuhi semua perang, aku telah berjuang tapi ada lebih banyak perang untuk melawan, negara kita tidak benar-benar independen/ merdeka.., negara kita masih dalam rantai bebrapa dari mereka dari pihak luar dan beberapa dari didi kita sendiri, hari ini di rantai dengan masalah kemiskinan, eksploitasi, buta huruf dan tahayul, sampai kita mendaatkan kebebasan ini apakah Mughal akan tetap berkuasa atas kita atau tidak, negara kita tidak akan benar-benar bebas, impian negara bebas yang Chattravati Shivaji Maharaj miliki akan dapat dipenuhi setelah kami keluar dari masalah ini, maslaah telah berkurang, kami belum menyingkirkan mereka, berikan aku kekuatan sehingga aku bisa mengakhiri mereka"... Bajirao mengatakan " lampu adalah di hutan dan sumbu seperti sinar harapan, cahaya tampaknya telah didominasi oleh kegelapan selama lampu menyala, aku tidak akan membiarkan kegelapan itu mendominasi, bahkan jika aku harus mengorbankan hidup ku, aku akan melawannya seperti lampu, ketika aku berjuang setiap lampu juga harus berjuang bersama, seluruh negara harus mendukung ku dalam perjuangan ku untuk ibu pertiwi". Bajirao mengelurkan belatinya dan mengiris jarinya dan mealkukan tilak dengan darahnya senediri.
Ibu Matsani marah dan mengatakan "mengapa kau tidak mau mengindahkan kata-kata ibu mu?".., aku tidak bisa membiarkan mu mengambil resiko untuk diri mu sendiri demi pangeran Jagat Raj, berfikirlah apa yang akan ku lakukan jika terjadi sesuatu pada mu?".. apa yang akan aku lakukan, dengan siapa aku harus hidup?". Matsani mendekati ibunya dan mencoba untuk menenangkannya "ibu, tidak akan ada yang salah terjadi dengan ku, aku menyukai tugas ku lebih dari hidup ku". Ibu Matsani mengatakan "tugas apa yang sedang kau bicarakan, Matsani?" .. kau akan mempertaruhkan hidup mu untuk sesorang yang tidak pernah mau menganggap mu sebagai adiknya?" . Mtsani tersenyum dan berkata " jadi bagaimana jika keluarga ini tidak pernah menganggap kita sebagai bagian dari mereka, aku menganggap keluarga ini sebagi bagian dari diri ku sendiri, sekarang aku akan membuat mereka menyadari meskipun mereka selalu membenci ibu ku, ibu ku selalu mengajari aku untuk mengasihi mereka, meskipun dia tidak pernah menganggap aku sebagai adiknya, tapi aku selalu menganggapnya sebagai kakak ku, kan?" .. itulah perbedaan dianatara kami berdua". Ibu Matsani mengatakan "ada satu perbedaan lagi, Matsani, agama kami.., ibunya seorang hindu dan aku seorang muslim, itulah alasannya mengapa kau tidak pernah diperlakukan dengan baik, meskipun kau anak sah dari raja, kau selalu diperlakukan seolah-olah kau bukan anak yang sah, dengarkan saja kata-kata ibu mu, aku selalu di jauhkan , aku hanya memenuhi tugas ku, tapi aku tidak akan pernah mendapatkan hak ku".
Matasni mengatakan "bahkan aku akan dipenuhi dengan tugas ku bu". Ibu Mtasani mengatakan "mengapa kau masih belum mengerti, meskipun niat mu baik, mereka tidak akan pernah menganggap itu baik bahkan itu akan dianggap sebagai pemberontakan". Matsani tersenyum dan berkata "tapi aku tidak pernah mersa terganggu, apa yang akan dipikirkan masyarakat dan aku tidak akan pernah mau repot, aku hanya peduli demi Allah dan bukan masyarakat, ketika allah melakukan kedailan-Nya, aku tidak mau disalahkan..Matsani memiliki hak-haknya tapi dia tidak memenuhi tugasnya". Ibu Matsani tetap menolaknya, tapi Matsani mengatakan "ibu, ini bukan hanya keluarga kami, ini adalah tentang negara kita, Mughal akan takut hanya dengan menyebutkan nama ayah, dan telah berani menculik anaknya saat ini, kau tidak akan membuat ayah ku di fitnah, aku akan membuktikannya pada Mughal bahwa kerajaan Bundelkhand tidaklah lemah, aku akan mendapatkan saudara ku kembali, ini adalah tanah kami dan sekarang kita harus membuat Mughal lebih waspada tentang hal ini". Matsani pergi.
Matasni mengatakan "bahkan aku akan dipenuhi dengan tugas ku bu". Ibu Mtasani mengatakan "mengapa kau masih belum mengerti, meskipun niat mu baik, mereka tidak akan pernah menganggap itu baik bahkan itu akan dianggap sebagai pemberontakan". Matsani tersenyum dan berkata "tapi aku tidak pernah mersa terganggu, apa yang akan dipikirkan masyarakat dan aku tidak akan pernah mau repot, aku hanya peduli demi Allah dan bukan masyarakat, ketika allah melakukan kedailan-Nya, aku tidak mau disalahkan..Matsani memiliki hak-haknya tapi dia tidak memenuhi tugasnya". Ibu Matsani tetap menolaknya, tapi Matsani mengatakan "ibu, ini bukan hanya keluarga kami, ini adalah tentang negara kita, Mughal akan takut hanya dengan menyebutkan nama ayah, dan telah berani menculik anaknya saat ini, kau tidak akan membuat ayah ku di fitnah, aku akan membuktikannya pada Mughal bahwa kerajaan Bundelkhand tidaklah lemah, aku akan mendapatkan saudara ku kembali, ini adalah tanah kami dan sekarang kita harus membuat Mughal lebih waspada tentang hal ini". Matsani pergi.
Bajirao dan Khasi Bai kembali kerumah, namun Radha Bai marah "apakah perintah ku memegang nilai untuk mu?". Bajirao mengatakan "ibu, tentu saja aku menilai perasaan mu, tolong beritahu jika aku pernah membantah perintah dari mu, kau memerintahkan aku untuk mengunjungi kuil, aku lakukan, kau meminta ku untuk memberikan persembahan untuk Bhat, aku lakukan". Radha mengatakan "bagaimana dengan menginanya, apa kau melakukannya sesuai dengan pernitah ku?" . Khasi terkejut, Bajirao berkata "aku tidak menghinanya, akus angat menghormatinya setelah dia tiba bahkan ketika ia pergi". Radha marah mengatakan pada Bajirao"apa kau tahu apa yang sedang aku bicarakan!.., kau pergi untuk melawan tradisi kami". Khasi mencoba menjelaskan "tidak ibu mertua, dia hanya mencoba untuk melindungi sorang gadis, selain itu tidak ada". Radha menatap Khasi "kupikir dia telah merubah mu, tapi aku merasa bahwa kau telah berubah menjadi seperti dia". Khasi terdiam. Radha mengatakan "kau telah menghina orang bijak dan kau juga telah menghina para dewa".
Bajirao mengatakan "Tidak ibu, aku melakukan rasa hormat ku pada dewa setalh aku sampai dasana dan ketika aku datang kembali". Radha mengatakan "Bajirao, tradisi bukanlah lelucon". Bajirao mengatakan "Ibu, kehidupan seroang gadis juga bukan lelucon, orang tuanya memutuskan hidupnya tanpa persetujuannya.., aku yang mengambil keputusan saat kalian menikah dan itu bukan kehendak baik kau sudah siap dengan perernikahan ini atau Khasi Bai, tapi kau masih menganggap bahwa keputusan aku salah". Khasi mengatakan "tidak seperti itu ibu mertua, tidak ada yang semacam itu". Bajirao mengatakan " ada perbedaan diantara dua keputusan rasa hormat dan menahan diri". Radha mengatakan "Bajirao, kau tidak bisa membuang tradisi dan kepercayaan lama". Bajirao mengatakan "Ibu, keyakinan lama seperti dinding tua dan kami mengisi mereka atau membawa mereka kebawah, jika tidak kehidupan orang yang tidak bersalah akan hancur karenanya". Radha mengatakan "aku tidak bisa berdebat terus tentang hal-hall ini dengan mu, sulit.., karena kau tidak hanya menentang ku tapi kau telah menentang seluruh dunia.. malam ini semua perayaan kau tidak akan melakukan apa-apa yang akan mempermalukan kami, apakah kau bisa melakukan itu?" . Bajirao mengatakan "iya, ibu". Radha kesal dan pergi.
Malam hari, Matsani sedang mengenakan pakian perang. sementara itu pelayan sedang membantu Khasi Bai untuk bersiap.Sevika mengatakan "Hari ini Bajirao akan menggunakan baju besi dirumah". Khasi bertanya "kenapa Vandana?" Sevika memberi alasan berkata "karena hati tidak akan hancur hanya dengan pedang, mereka hanya bisa dihancurkan dengan kecntikan". Khasi tersipu malu dan tersenyum. Matsani mengenakan baju besi dan mengambil pedang, ia mengatakan pada prajurit wanita yang juga telah bersiap "pedang, belati dan mariam, mengapa tangan tidak dapat menggunakan senjata-senjata ini saat menjadi seorang wanita, ketika senjata itu menjadi feminim, Mughal telah melihat kekuatan Bundeljand sejauh ini, tapi hari ini mereka akan benar-benar melihat kekuatan kita, Mughal tidak akan merugikan saudara ku dan raja Bundelkhand, jaga raj tapi mereka mempertaruhkan kekuatan Bundelkhand, aku akan membawa kembali rasa hormat itu hari ini atau aku akan mengorbankan hidup ku untuk berjuang untuk hal itu". Matsani dan prajuritnya menutup wajah mereka dengan sorban mereka". Matsani pergi bersama dengan prajuritnya untuk menyelamatkan saudaranya dari tangan Mughal.
Chimna ji terkesima dengan kecantikan Rakhma, Rakhma mengatakan "mertua telah menunggu kakak ipar untuk waktu yang sangat lama dan kakak ipar mengajarkan prajurit bagaimana untuk memerangi bukan menghabiskan waktu bersama dengannya, bisakah melakukan hal yang lainnya selain hanya peperangan dan perkelahian ada dalam kehidupan?" . Chimna ji berkata "kakak ku tidak seperti aku yang tahu untuk melawan dan untuk mencintai". Chimna menggoda Rakhma, tapi Rakma memberikan kalung dan meminta memberikannya pada Rao, Chimna berpendapat "kalung ini tidak akan terlihat baik untuk rao ". Rakhma mengatakan "itu untuk kakak ipar, tapi berikan ini pada Rao, sehingga dia bisa membuat kakak ipar memakikannya dan itu akan membuatnya bahagia ". Chimna mengatakan "kau menghawatirkan kebahagiaan seluruh dunia, tapi kau tidak meminta/ bertanya apapun untuk membuat suami mu bahagia?". Rakhma malu dan meminta Chimna untuk pergi, Chimna tersenyum dan pergi dari sana.
Bihu Bai meminta seorang pria untuk memberikan surat pada sesorang. Paman itu berkata "aku akan membawa surat itu, Bihu.., tapi surat ini tidak akan membawanya ke festival hari ini". Bihu mengatakan"paman lakukan apapun untuk bisa membawanya datang kesini, aku tidak ingin adanya suami ku untuk membuat salah pada keluarga ku dan juga kakak ku" Bihu memohon dan paman itu pergi. Chimna ji memberikan kalung pemberian Rakhma pada Bajirao, Bajirao mengatakan pada Chimna Ji "Wow Chimna kau telah membawakan kalung untuk orang yang sejauh ini telah memenangkan pertempuran". Chimna ji berkata "Kakak, kalung ini untuk kakak ipar bukan untuk mu dan Rakhma telah memberikan ini". Bajirao bertanya "kenapa kau tidak meminta Rakhma untuk memberikannya pada Khasi Bai?".., mengapa kau meminta ku untuk memberikannya?". Chimna ji mengatakan "karena akan ada perbedaan dalam memberikan ini dengan orang lain yang memberikannya pada mu sekarang?" . Bajirao bertanya "apa perbedaannya?" Chimna ji bingung berkata "Sekarang bagaimana aku akan menjelaskannya pada mu?". Bajirao bertanya "apa?". Chimna ji menupeuk pundak Bajirao dan kemudian mendorongny, ia menabrak Khasi Bai, istrinya hampir terjatuh namun Bajirao menahannya, mereka bertatapan dan Khasi kesakitan Bajirao berusaha untuk membantunya berdiri. Khasi berkata "Ya dewa, apakah tangan mu tebuat dari besi?" bahu ku terluka". Chimna ji kesal dan menepuk jidatnya berkata "aduh kakak". Bajirao menatap Chimna ji namun Chimna bergegas pergi dari depan kamar mereka.
Bajirao dan Khasi Bai saling menatap, ia masih memegang kalung pemberian Rakhma dan Chimna ji ditangannya dan memberikannya pada Khasi, Khasi Bai bertanya pada suaminya "Rao apakah kalung ini untuk ku?" Bajirao mengangguk dan berkata "iya". Khasi tersenyum bahagia dan berlari mendekati cermin dan mencoba mendekatkan kalung dengan lehernya dan berkata "kalung ini sangat indah, ku pikir kau hanya tahu bagaimana memilih pedang karena kau adalah seorang pejuang, tapi kau telah memilihkan kalung yang ihndah untuk ku". Bajirao mengatakan "Bukan aku, tapi Rakhma yang telah memilihkan kalung itu untuk mu". Raut wajah Khasi berubah, Bajirao menjelaskan " Rakhma memberikan kalung itu pada Chimna Ji memberikan kalung itu pada ku sehingga aku bisa memberikannya pada mu". Mendengar ucapan suaminya, Khasi menjadi kecewa dan sedih dan bertanya pada Bajirao "dan kau..?. Bajirao berpaling dan merasa bersalah pada Khasi, Khasi menghampirinya dan bajirao berkata " Bahkan aku tidak ingin kau terluka". Khasi mengatakan pada suaminya "Rao apapun yang aku inginkan tidak pernah terjadi". Khasi menangis menatap Bajirao, Nandini datang mmeberitahu " Khasi Bai, ibu mu telah datang". Khasi tersenyum bahagia " Ibu...". Khasi Bai menangis dan berhenti menatap Bajirao dan pergi.
Matsani menyerang Mughal pada malam hari untuk menyelamatkan Jaga Raj dan mengalahkan penjaga lalu membukakan pintu untuk pasukan wanita untuk masuk, atsani mengalahkan semua penjaga, ia bergegas berlari dan masuk kepenjara namun dua orang penjaga lainnya berjaga, ia melemparkan koin untuk memnacing perhatian para penjaga dan berlari kepenjara, Matsani melihat Jaga Raj sedang berdiri terikat, lalu melawan para penjaga dan memutuskan gembok, ia masuk kedalam penjara dan memotong tali yang mengikat kedua tangan Jaga raj. Matsani berkata pada Jagaraj "Cepat, mari kita pergi" Jagaraj marah dan tidak seimpatik dengannya dan bertanya "kau saipa?'., aku tidak akan pergi kemanapun dengan mu". Matsani mengatakan "kami tidak punya banyak waktu, cepat mari kita pergi". Jagaraj berkata pada Matsani " aku tidak akan pergi kemana pun dengan seorang wabita, aku bertanya pada mu kau siapa?.., perlihatkan wajah mu pada ku". Seseoarng datang ketika Matsani menghindar dan mencambuk sorban dan membuka cadar yang menutupi wajah Matsani. Dua orang prajurit lainntya mengarahkan pedang pada Jaga Raj. Pria itu berkata "seorang perempuan telah datang untuk menyelamatkan mu, wow jagaraj aku sangat terkesan dengan kejantanan mu". Matsani berbalik dan menatap pria itu.
Precap: Saudara laki-laki Kashi, Mohan Rao mengatakan kepada Baji bahwa pedang terlihat bagus di medan perang dan tidak di sini. Baji dan Mohan Rao berpendapat. Kumud meminta Kashi meminta Baji untuk meminta maaf kepada Mohan Rao dari semua orang.
Bajirao mengatakan "Tidak ibu, aku melakukan rasa hormat ku pada dewa setalh aku sampai dasana dan ketika aku datang kembali". Radha mengatakan "Bajirao, tradisi bukanlah lelucon". Bajirao mengatakan "Ibu, kehidupan seroang gadis juga bukan lelucon, orang tuanya memutuskan hidupnya tanpa persetujuannya.., aku yang mengambil keputusan saat kalian menikah dan itu bukan kehendak baik kau sudah siap dengan perernikahan ini atau Khasi Bai, tapi kau masih menganggap bahwa keputusan aku salah". Khasi mengatakan "tidak seperti itu ibu mertua, tidak ada yang semacam itu". Bajirao mengatakan " ada perbedaan diantara dua keputusan rasa hormat dan menahan diri". Radha mengatakan "Bajirao, kau tidak bisa membuang tradisi dan kepercayaan lama". Bajirao mengatakan "Ibu, keyakinan lama seperti dinding tua dan kami mengisi mereka atau membawa mereka kebawah, jika tidak kehidupan orang yang tidak bersalah akan hancur karenanya". Radha mengatakan "aku tidak bisa berdebat terus tentang hal-hall ini dengan mu, sulit.., karena kau tidak hanya menentang ku tapi kau telah menentang seluruh dunia.. malam ini semua perayaan kau tidak akan melakukan apa-apa yang akan mempermalukan kami, apakah kau bisa melakukan itu?" . Bajirao mengatakan "iya, ibu". Radha kesal dan pergi.
Malam hari, Matsani sedang mengenakan pakian perang. sementara itu pelayan sedang membantu Khasi Bai untuk bersiap.Sevika mengatakan "Hari ini Bajirao akan menggunakan baju besi dirumah". Khasi bertanya "kenapa Vandana?" Sevika memberi alasan berkata "karena hati tidak akan hancur hanya dengan pedang, mereka hanya bisa dihancurkan dengan kecntikan". Khasi tersipu malu dan tersenyum. Matsani mengenakan baju besi dan mengambil pedang, ia mengatakan pada prajurit wanita yang juga telah bersiap "pedang, belati dan mariam, mengapa tangan tidak dapat menggunakan senjata-senjata ini saat menjadi seorang wanita, ketika senjata itu menjadi feminim, Mughal telah melihat kekuatan Bundeljand sejauh ini, tapi hari ini mereka akan benar-benar melihat kekuatan kita, Mughal tidak akan merugikan saudara ku dan raja Bundelkhand, jaga raj tapi mereka mempertaruhkan kekuatan Bundelkhand, aku akan membawa kembali rasa hormat itu hari ini atau aku akan mengorbankan hidup ku untuk berjuang untuk hal itu". Matsani dan prajuritnya menutup wajah mereka dengan sorban mereka". Matsani pergi bersama dengan prajuritnya untuk menyelamatkan saudaranya dari tangan Mughal.
Chimna ji terkesima dengan kecantikan Rakhma, Rakhma mengatakan "mertua telah menunggu kakak ipar untuk waktu yang sangat lama dan kakak ipar mengajarkan prajurit bagaimana untuk memerangi bukan menghabiskan waktu bersama dengannya, bisakah melakukan hal yang lainnya selain hanya peperangan dan perkelahian ada dalam kehidupan?" . Chimna ji berkata "kakak ku tidak seperti aku yang tahu untuk melawan dan untuk mencintai". Chimna menggoda Rakhma, tapi Rakma memberikan kalung dan meminta memberikannya pada Rao, Chimna berpendapat "kalung ini tidak akan terlihat baik untuk rao ". Rakhma mengatakan "itu untuk kakak ipar, tapi berikan ini pada Rao, sehingga dia bisa membuat kakak ipar memakikannya dan itu akan membuatnya bahagia ". Chimna mengatakan "kau menghawatirkan kebahagiaan seluruh dunia, tapi kau tidak meminta/ bertanya apapun untuk membuat suami mu bahagia?". Rakhma malu dan meminta Chimna untuk pergi, Chimna tersenyum dan pergi dari sana.
Bihu Bai meminta seorang pria untuk memberikan surat pada sesorang. Paman itu berkata "aku akan membawa surat itu, Bihu.., tapi surat ini tidak akan membawanya ke festival hari ini". Bihu mengatakan"paman lakukan apapun untuk bisa membawanya datang kesini, aku tidak ingin adanya suami ku untuk membuat salah pada keluarga ku dan juga kakak ku" Bihu memohon dan paman itu pergi. Chimna ji memberikan kalung pemberian Rakhma pada Bajirao, Bajirao mengatakan pada Chimna Ji "Wow Chimna kau telah membawakan kalung untuk orang yang sejauh ini telah memenangkan pertempuran". Chimna ji berkata "Kakak, kalung ini untuk kakak ipar bukan untuk mu dan Rakhma telah memberikan ini". Bajirao bertanya "kenapa kau tidak meminta Rakhma untuk memberikannya pada Khasi Bai?".., mengapa kau meminta ku untuk memberikannya?". Chimna ji mengatakan "karena akan ada perbedaan dalam memberikan ini dengan orang lain yang memberikannya pada mu sekarang?" . Bajirao bertanya "apa perbedaannya?" Chimna ji bingung berkata "Sekarang bagaimana aku akan menjelaskannya pada mu?". Bajirao bertanya "apa?". Chimna ji menupeuk pundak Bajirao dan kemudian mendorongny, ia menabrak Khasi Bai, istrinya hampir terjatuh namun Bajirao menahannya, mereka bertatapan dan Khasi kesakitan Bajirao berusaha untuk membantunya berdiri. Khasi berkata "Ya dewa, apakah tangan mu tebuat dari besi?" bahu ku terluka". Chimna ji kesal dan menepuk jidatnya berkata "aduh kakak". Bajirao menatap Chimna ji namun Chimna bergegas pergi dari depan kamar mereka.
Bajirao dan Khasi Bai saling menatap, ia masih memegang kalung pemberian Rakhma dan Chimna ji ditangannya dan memberikannya pada Khasi, Khasi Bai bertanya pada suaminya "Rao apakah kalung ini untuk ku?" Bajirao mengangguk dan berkata "iya". Khasi tersenyum bahagia dan berlari mendekati cermin dan mencoba mendekatkan kalung dengan lehernya dan berkata "kalung ini sangat indah, ku pikir kau hanya tahu bagaimana memilih pedang karena kau adalah seorang pejuang, tapi kau telah memilihkan kalung yang ihndah untuk ku". Bajirao mengatakan "Bukan aku, tapi Rakhma yang telah memilihkan kalung itu untuk mu". Raut wajah Khasi berubah, Bajirao menjelaskan " Rakhma memberikan kalung itu pada Chimna Ji memberikan kalung itu pada ku sehingga aku bisa memberikannya pada mu". Mendengar ucapan suaminya, Khasi menjadi kecewa dan sedih dan bertanya pada Bajirao "dan kau..?. Bajirao berpaling dan merasa bersalah pada Khasi, Khasi menghampirinya dan bajirao berkata " Bahkan aku tidak ingin kau terluka". Khasi mengatakan pada suaminya "Rao apapun yang aku inginkan tidak pernah terjadi". Khasi menangis menatap Bajirao, Nandini datang mmeberitahu " Khasi Bai, ibu mu telah datang". Khasi tersenyum bahagia " Ibu...". Khasi Bai menangis dan berhenti menatap Bajirao dan pergi.
Matsani menyerang Mughal pada malam hari untuk menyelamatkan Jaga Raj dan mengalahkan penjaga lalu membukakan pintu untuk pasukan wanita untuk masuk, atsani mengalahkan semua penjaga, ia bergegas berlari dan masuk kepenjara namun dua orang penjaga lainnya berjaga, ia melemparkan koin untuk memnacing perhatian para penjaga dan berlari kepenjara, Matsani melihat Jaga Raj sedang berdiri terikat, lalu melawan para penjaga dan memutuskan gembok, ia masuk kedalam penjara dan memotong tali yang mengikat kedua tangan Jaga raj. Matsani berkata pada Jagaraj "Cepat, mari kita pergi" Jagaraj marah dan tidak seimpatik dengannya dan bertanya "kau saipa?'., aku tidak akan pergi kemanapun dengan mu". Matsani mengatakan "kami tidak punya banyak waktu, cepat mari kita pergi". Jagaraj berkata pada Matsani " aku tidak akan pergi kemana pun dengan seorang wabita, aku bertanya pada mu kau siapa?.., perlihatkan wajah mu pada ku". Seseoarng datang ketika Matsani menghindar dan mencambuk sorban dan membuka cadar yang menutupi wajah Matsani. Dua orang prajurit lainntya mengarahkan pedang pada Jaga Raj. Pria itu berkata "seorang perempuan telah datang untuk menyelamatkan mu, wow jagaraj aku sangat terkesan dengan kejantanan mu". Matsani berbalik dan menatap pria itu.
Precap: Saudara laki-laki Kashi, Mohan Rao mengatakan kepada Baji bahwa pedang terlihat bagus di medan perang dan tidak di sini. Baji dan Mohan Rao berpendapat. Kumud meminta Kashi meminta Baji untuk meminta maaf kepada Mohan Rao dari semua orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar