Minggu, 18 Februari 2018

PESHWA BAJIRAO EPISODE 123 (12 JULI 2017) : BIHU PULANG KERUMAH DAN RADHA BAI MENUNTUTNYA UNTUK BISA DAPAT MELAHRIKAN BAYI LAKI-LAKI, KHASI BAI SENANG BAJIRAO KEMBALI PULANG

TAYANGAN SONY TV  12 Juli 2017

PESHWA BAJIRAO EPISODE 123
DIINTERPRETASIKAN DAN DITERJEMAHKAN OLEH MADE

Index : Sambil berjalan-jalan di malam hari, Bajirao mendengar seorang wanita sedang bernyanyi. Bajirao mengikuti suara yang menenangkan dan menemukan Mastani. Tapi, sebelum Bajirao bisa melihatnya sekilas, Mastani menghilang ke dalam kegelapan. Bajirao jelas terpesona dengan suara Mastani. Apa jadinya hasil akhir dari pertemuan Bajirao dan Mastani? Tonton episode ini untuk mencari tahu.

-------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------


Ma;lam hari, Bajirao berjalan didekat tepian sungai bersama dengan kudan putihnya, Bajirao mendengarkan suara merdu seorang wanita sedang bernyanyi, ia berjalan bersama dengan kudanya meuju suatu tempat, seorang wanita muda terlihat sedang meyanyikan lagu dengan sangat indah dan dikelilingi oleh penari ia menyanyikan lagu tentang kisah cinta dirinya yang mekar ditepi jamuna.
Bajirao datang kesana dan melihat seorang wanita dengan meutupi wajah memakai dupptanya, Bajirao duduk disana dan ia bersandar dipilar dan bersantai mendengarkan nyanyian merdu wanita muda itu dengan santai dan memejamkan matanya, wanita itu bangun dan melihat kebelakang, Bajirao tersenyum dan membayangkan kehidupan keluarganya bersama dengan pasangannya dan juga putranya, lalu wanita itu (Matsani) tersenyum dan berputar-putar mengikuti iringan musik, Bajirao terbangun dan melihat kesekliling tempat itu namun wanita itu telah pergi dengan menunggangi kuda.

Bajirao bertanya pada seorang pria "siapa dia?". Pria itu berkata "aku tidak tahu, tapi ini adalah sekelompok orang dari masyarakat Parnami yang hanya lewat disini, mereka membaca Quran dan juga Gita, tidak peduli apa jalannya, tapi tujuannya adalah sama". Bajirao berkata "Kau mencari cinta mu, tapi pertama melepaskan diri". ia tersenyum. Khasi memeluk Bajirao dan menciumnya, Rakhma datang dan membunyikan gelangnya, ia datang untuk menghiburnya tapi Khasi kesal. Khasi mengatakan "lihat ini, dia tidak ada disni tapi aku selalu seperti ini, angin jahat membawa jauh aroma tubuhnya , aku merasa ingin mengiris angin dengan pedangnya .. jahat!". Rakhma mengatakan "semakin kau menangis, kau akan merugikan diri mu sendiri". Khasi bertanya "apa maksud mu?" Rakhma mengatakan "maksud ku ketika ada obat yang mujarab maka hujan akan turun, kau akan membiarkannya mengisi laut atau akan mengambilkan wadah?" .

Khasi mengatakan "Laut". Rakhma mengatakan"jika mata mu membengkak dengan air mata mu, maka kau akan kehilangan kecantikan mu, lalu bagaimana kau akan mendapatkan pesona untuk Rao?". Khasi kesal, tapi Rakhma mentetawakannya. Khasi mengatakan "Jangan tertawa". Rakhma mengatakan "apa yang bisa aku lakukan kakak, aku tidak bisa berhenti untuk tertawa" . Khasi kesal dan melempar Baju suaminya di atas tempat tidur dan menjauh. Rakhma mengatakan "Coba dengarkan..". Khasi menghentikan langkah kakinya ketika Radha Bai datang ke kamarnya. Khasi mengusap air matanya berkata "Ibu mertua". Radha Bai mengatakan "air mata serigala tidak akan membuat bulan muncul dengan cepat, Khasi Bai". Khasi berkata "Maafkan aku ibu mertua, aku tidak akan menangis lagi". Radha tersenyum mengatakan "Ani bai dan Bihu Bai akan datang kesini dalam waktu yang dekat, kau tidak akan menyadari bertapa waktu berlalu dengahn cepat saat kau bicara dengan mereka". Khasi tersenyum mengatakan "menunggu sesorang memang sulit ibu mertua, jika kau mencoba untuk terburu-buru untuk melalu itu, akhirnya kau akan menyakiti diri mu sendiri". Khasi memeluk Radha.

Matsani menunggangi kudanya dan kembali ke istana Chhartasal, ibunya melihatnya dari atas balkon, Matsani mencari ibunya tapi tidak mendapatkan jawaban, Matsani bertanya pada ibunya "mengapa kau tidak mendengarkan aku?" . Ibu Matsani mengatakan " Ini sesuatu yang telah aku pelajari dari mu", Matsani mengatakan " jadi kau marah kerena aku pergi dengan umat yang lainnya tanpa memberitahu mu ?". Ibu Matsani menjawab"lebih dari maraj, aku khawatir.. kau tahu jika ratu mengetahuinya lalu apa yang akan dilakukannya kemudian?". Matnsai menjawab "kemudian dia akan mengeluh pada raja.., ibu aku pergi keluar untuk berdoa apa yang salah dengan hal itu?" Ibu Matsani mengatakan "tapi kau bisa pergi dengan tandu atau kau bisa pergi dengan pengawalan pahurit mu". Matsani mengatakan "jika kau ingn melindungi putri mu begitu banyak, lalu mengapa kau memberikannya nama Matsani?" .

Ibu matsani mengatakan "aku tidak sedang bercanda Matsani.., kau tahu bahwa kepala ratu tidak seperti aku, dia adalah orang yang memutuskan semua aturan diistana bukan aku". Matsani hanya terdiam dan tersenyum ia duduk disamping ibunya mengatakan "ibu mengapa kau begitu takut dengan ratu?.., jika dia adalah istri ayah maka begitu juga dengan diri mu". Ibu matsani mengatakan "Tuhan berada disurga, dan kami berada di bumi dan kita menjalankan hidup kita berdasarkan pada realitas bukan pada emosi, dan kenyataannya adalah aku hanya salah satu dari banyak istri dari yang mulia, semua ratu tinggal jauh dari kau dan juga aku karena agama kami berbeda". Matsani etrsenyum berkata pada ibunya " Ibu, agama seperti bunga yang menyebarkan aroma dalam hidup kita, dan apa gunyanya jika hanya ada satu jenis bunga ditaman?" .., dan aku akan mengikuti jalan pengabdian, ini menyatakan cinta sebagai agama terbesar, dunia menetapkan batas pada kami, tapi cinta .., Cinta membebaskan kita". Matsani memejamkan mata dan membetangkan tangannya.

Ibu Matsani (Ruhaani Bai) berkata " Jika jalan itu sulit kita tidak akan berhenti berjalan, tapi kita bisa berhati-hati .. ingat itu Matsani.., jika kau membuat kesalahan maka yang mulia hanya akan mendengarkan kepala ratu dan bukan aku ". Matsani membuka matanya dan tersenyum berkata Ibu, aku memahami rasa takut mu, tapi apa yang bisa aku lakukan"// kau tidak bisa hidup dalam ketakutan ". Matsani pergi ia mengusap air matanya .

Ditendanya, Bajirao menyanyikan lagu yang sama seperti yang dinyanyikan oleh Matsani. Balaji memanggil Bajirao, ia datang menghampiti ayahnya. Balaji mengatakan "aku telah melihat mu berjuang sepoerti sorang prajurit dan aku mendengarkan kau bernyanyi untuk pertama kalinya, lagu apa yang sedang kau nyanyikan?" Bajirao mengatakan pada Balaji "aku mendengarkan beberapa orang sedang menyanyikan lagu pujian ini, hari ini.., aku merasa lega setelah mendengarkan itu". Balaji mengatakan "Hal itu baik, baji.. lperdamian juga di butuhkan". Bajirao mengatakan "aku lupa tentang kedamian dan keheningan setelah perang bertahun-tahun" .. penyanyinya mengingatkan aku tentang itu ". Balaji bertanya "dia bernyanyi?" . Baji mengatakan "mereka bernyanyi, para penduduk desa". Balaji mengatakan "Kita akan pulang besok, Baji kau kan bertemu dengan Khasi besok, tetaplah tenang sampai aku sembuh kau harus tetap tinggal di rumah". Bajirao mengatakan "Baiklah ayah". Balaji kembali berbaring ditempat tidurnya". Bajirao menjauh dan berdiri di depan pintu berkata "Jika aku tetap tenang maka musuh-musuh akan berbaris didepan, ayah".

Chimna ji bertemu dengan Pant Pratindhi berkata " Peswin bai mengirimkan hadiah dan undangan ini untuk mu, akan di selenggarakan sebuah upacara untuk merayakan kemenangan peshwa kami akan merasa terhormat dangan kehadiran mu". Pant Pratindhi mengatakan "tampaknya peshwa sangat mencintai untuk melayani bangsa" Cimna ji mengatakan "kami sangat menghormati mu, silahkan bicara pada intinya". Pant Pratindhi mengatakan "jadi Chimna initinya adalah aku berfikir apakah uang yang telah dikumpulkan atas nama raja Shahu untuk perang yang berharga atau dengan jumlah tertentu dialihkan semua pada rekening peshwa". Chimna ji kesal dan berkata "aku sangat menghormati kekhawatiran mu dan aku meminta pada mu untuk mengekspresikan kekhawatiran mu di depan raja Shahu dipengadilan, kau akan mengetahui akan kebenaran, orang-orang yang salah takut pada kebenaran bukan peshwa" . Pant Pratindhi mengatakan "peshwa sedang terbang tinggi, Chimna, dia harus ingat bahwa kementrian memegang banyak hal yang penting jika kau repot-repot mengajukan itu didepan dewan mentri, kau akan di rugikan". Chimna mengatakan "peswaa menyadari tantangan di depannya, tapi dia siap untuk menghadapi orang -orang yang mungkin akan menuduhkan hal yang palsu pada dirinya.., Peshaw adalah komandan dari raja Shahu. Belian ini tidak memegang kepentingan apapun untuknya, Pant" .

Bihu pulang kerumah Radha dan memanggil ibunya, Khasi senang dan menyapa kedatangannya "adik ipar"... kau telah datang adik ipar?" . Bihu mengatakan "kakak ipar, setelah bertahun-tahun tapi kau masih kekanak-kanakan.. aku datang dan itulah sebabnya aku berdiri disini, ambil ini aku telah membawa manusan favoorit untuk kakak, mungkin saja kau melupakan seleranya". Khasi tersenyu,. Rakhma datang menyapa Bihu Rakhma berkata "apa kabar kakak?". Mereka berpelukan. Rakhma mengatakan "kau telah datang, dan ibu (aayi saheb) telah menunggu mu". Rakhma dan Bihu pergi meninggalkan Khasi, Khasi membuka bungkusan dari Bihu, Khasi bekata " kau alkan lihat aku akan berlajar tetntang kesukaan dan ketidaaksukaan mu saat ini, sehingga kau tidak lagi mendapatkan ejekkan lagi ". Khasi tersenyum dan pergi.

Pelayan datang membawakan sesuatu untuk Radha, Radha mendapatkan hadiah dari Bihu, Radha bertanya "Bagimana bisa menantu ku tidak datang ikut dengan mu?". Bihu mengatakan "Ibu, dia sibuk mungkin dia tidak bisa datang". Radha menyuruh pelayan pergi. Radha bertanya "apakah kau telah melakukannya, aku telah meminta mu untuk terus berpuasa?". Bihu mengatakan "Iya ibu". radha bertanya "apakah menantu ku juga telah meminum ramuan yang telah saya minta?".

Bihu mengatakan "ibu kau terlalu banyak bertanya, aku baru saja datang dan kau sudah mulai meminta semua itu". Radha mengatakan "mingin ini tidak serius untuk mu, tapi bagi ku hanya seorang ibu yang tahu apa yang telah dia lewati ketika putrinya belum hamil ". Bihi kaget, Radha mengatakan "dirumah ibu mertua, menantu akan dihoirmati mertuanya hanya ketika dia melahirkan seorang anak ". Bihu mengatakan :aku tidak percaya kau akan mengatakan semua ini, aku sudah berusaha kapan kau menjadi oertodok/ terlalu kolot?" .., Kau telah berubah begitu banyak, ibu" .. kami saling mencintai, kami tidak pernah mengikuti formalitas, ketika kita tidak bisa memanggil sesorang yang kita cintai dengan cara yang ramah bukan hanya percakapan bahkan dengan hubungan akan menjadi formalitas".

Radha menatap Bihu, Bihu menangis mengatakan "tampaknya sepertinya kita tidak saling mencintai ". Radha mengatakan "aku begitu sangat mencintau mu, Bihu" . Bihu mengatakan "tapi ini tidak seperti itu ". Radha mengatakan pada Bihu "seorang suami mungkin bisa menipu tanpa alsan dan kau memberikan alasan dengan tidak melahrikan bayi, itu menegaskan hak-hak mu sebagai istri dengan melahirkan seorang bayi, apakah semua baik-baik saja antara menantu dan kau?" . Bihu mengangguk "Iya". Radha membuat surat dan mengikatnya, Radha berkata pada Bihu "dia akan datang jika itu telah terjadi"..., aku akan meminta pandit untuk melakukan pemujaan sehingga kau bisa melahirkan bayi laki-laki ".

Bihu bertanya "apakah itu cukup untuk membantu aku hamil?" . Radha mengatakan "aku tidak tahu semua itu, tapi mertua mu harus merasa bahwa kau telah mengambil setiap tindakan yang mungkin dapat membuat mu melahirkan seorang bayi laki-laki". Bihu bertanya"Bagimana jika aku masih belum melahirkan anak, atau bahkan setelah itu?" . Radha mengatakan " kami mungin tidak lagi memiliki solusi, tapi hal-hal seperti itu bisa membeli waktu untuk mencari tahu". Bihu mengatakan "aku datang kesini untuk bertemu dengan ibu ku .., tapi tidak.., ibu ku tidak tinggal disini, karena hanya peswin bai yang tinggal disini". Khasi bai datang menemu Radha "ibu mertua, ibu mertua.. dia telah datang". Bihu senang "Kakak sudah datang ?" .. apakah saudara ku datang?". Radha senang, mereka bergegas untuk pergi .

Khasi Bai menyambut kedatangan suaminya dan yang lainnya di depan pintu gerbang rumah mereka, Khasi mengapus air matanya, ia tersenyum menatap Bajirao yang masih duduk menunggangi kudanya

Kashi menunjukkan lilin berdiri dan sebagainya ke Baji. Baji menatapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar